Beruntung sejak masuk kuliah, saya disadarkan oleh Fauzy Husni betapa serunya mencatat dan melihat perjalanan yang didokumentasikan melalui blog. Saya bisa belajar menulis secara bertahap tanpa beban berat yang harus dipikul (seperti halnya harus menyusun makalah dari dosen). Menulis blog setidaknya hanyalah sebuah cara agar saya bisa menumpahkan unek-unek yang bercokol di dada. Ide-ide yang tak tersampaikan. Curahan hati. Kekesalan. Atau ketika lagi geram sama teman yang ngehutang tapi belum bayar-bayar malah minta nambah hutang lagi, daripada tak tersalurkan mungkin bisa dijadikan topik di blog ini. Atau bisa juga hanya sekedar catatan biasa tentang cicak-cicak yang bergelantungan di kamar yang hingga saat ini masih bingung bagaimana cara mengusirnya. Kadang kalau saya sedang tidur, cicak-cicak suka bernyanyi-nyanyi tak karuan. Ckckckck. Seolah-olah mengejek tampang jelek saya yang sedang ngorok ketika terlelap.

Sebelum masuk kuliah, selama ini, saya menulis secara tidak teratur. Banyak hal saya tulis sekedar iseng atau hanya karena ada spesial occasion yang dirasa berharga dan sayang untuk dilupakan. Ketika saya membuka-buka file dan catatan di laptop, terdapat beberapa catatan di hidup saya yang terlupakan. Tak terbersit sama sekali bahwa saya pernah mengalami hal semacam itu. Namun ketika membaca kembali catatan tersebut, seperti ada kenangan yang terbuka kembali. Saya merasa mengais-ngais masa lalu yang terkubur. Hal-hal buruk mungkin telah membusuk tetapi tak ada salahnya membuka kembali luka lama dan membalutnya kembali kalau-kalau terjadi infeksi. Kalau luka itu belum sembuh, saya akan obati kembali. Kalau pun telah pulih, saya hanya berharap tak menimbulkan bekas yang bisa dilihat orang lain.

Oh ya, enam bulan ini bukan bulan-bulan produktif saya. Tapi enam bulan ini memberikan banyak sekali hal baru. Teman baru. Lingkungan baru. Tempat nongkrong baru. Pengalaman baru. Kaos kutang baru.

Akan tetapi hal pertama yang ingin saya retrospeksi adalah buku-buku yang baru saya baca sejak enam bulan ini.

  1. Setengah Isi Setengah Kosong –Parlindungan Marpaung
  2. Bumi Manusia –Pramoedya Ananta Toer
  3. Sitti Nurbaya –Marah Rusli
  4. Rich Dad Poor Dad For Teens –Robert Kiyosaki
  5. In Stiches With Ms. Wiz –Terence Blacker
  6. Little Bunny Little -Anonymous
  7. Outliers –Malcolm Gladwell
  8. Blink –Malcolm Gladwell
  9. Sakola Rimba –Butet Manurung
  10. Japanese Wisdom –Anand Khrisna
  11. Smokol –Cerpen Terbaik Kompas 2008
  12. Lampor –Cerpen Terbaik Kompas 1994
  13. Ngenest –Ernest Prakasa
  14. Boulevard de Clichy –Remy Sylado

Ternyata selama enam bulan, saya hanya menuntaskan tiga novel dan dua buah kumpulan cerpen. Dari 14 buku yang saya baca, In Stiches With Ms Wiz dan Little Bunny Little rasanya cukup mengesankan karena dua buku tersebut adalah buku berbahasa Inggris yang saya tuntaskan dalam satu tahun ini, meskipun hanya cerita ringan.

Beberapa buku-buku di atas sempat saya tulis ulasannya, beberapa juga tidak saya tulis. Ada yang masih berbentuk draft yang tak selesai-selesai, dan mungkin tak kunjung selesai.

Untuk seseorang yang punya mimpi untuk menjadi penulis rasanya hal tersebut benar-benar tidak produktif. Istilahnya, siapa yang gagal membaca maka ia akan gagal menulis. Dan rasanya enam bulan ini, saya gagal membaca. Namun meski gagal membaca, selama enam bulan ini, saya setidaknya BERHASIL dalam “menonton”. Saya melahap 80 film dalam waktu enam bulan. Di antara delapan puluh film ini, saya menemukan beberapa film terbaik yang saya pernah saya tonton hingga saat ini dan saya rekomendasikan 100% bagi yang membaca blog ini untuk menontonnya.

  1. Gran Torino
  2. 12 Angry Man
  3. Shawshank Redemption
  4. Princess Mononoke
  5. The Ring
  6. The Curious Case of Benjamin Button
  7. The Godfather Trilogy (Part 1-3)
  8. Case 39

Setengah tahun 2016 ini juga, saya jatuh hati ke seorang gadis yang cerdas, bermata bulat bening. Memiliki senyum manis seperti senyum Keira Knighley, raut wajah sendu-ceria seperti Acha Septriasa. Serta hidung semancung Raisa. Yah, seperti yang sudah-sudah, rasanya ending ceritanya tidak perlu saya paparkan di sini karena terlalu menyedihkan. Saya ingat ketika seorang teman bercerita tentang kisah cintanya.

“Biarlah saat ini bertepuk sebelah tangan” Ia terdiam sebelum melanjutkan “ada saatnya nanti ketika semua orang akan bertepuk tangan ketika aku dan dia bersanding di pelaminan”

Sayangnya, hingga kini teman saya tetap jomblo.

Di semester ini juga, saya mencicipi acara-acara baru seperti nonton Stand-Up Comedy secara langsung di TV nasional, dan sensasinya tentunya sangat berbeda. Jika melalui TV, feeling humornya kecil, tapi ketika menonton bersama banyak orang yang memiliki kesamaan minat, saya bisa tertawa sepuas-puasnya. Apalagi ketika Sadana Agung Tampil, saya tertawa sampai keluar air mata. Terbahak sengakak-ngakaknya sampai sakit perut. Di saat itu, saya membayangkan kalau-kalau Sadana Agung jadi topeng monyet, pasti lebih lucu lagi.

Masih seputar stand-up comedy, saya menerima tantangan untuk tampil di acara Psychovent, acara mahasiswa psikologi Universitas Negeri Yogyakarta, dan tampil sebagai komika yang menghibur teman-teman satu angkatan. Entah mereka terhibur atau nggak. Setidaknya saya bisa ngejek dosen di materi yang saya sampaikan dan untungnya tidak dianggap serius. (Padahal serius.) Maafkan saya pak Dosen.

Di akhir Desember, bersama seorang teman yang memiliki minat sama, kita menonton Young Lex secara langsung. Sebagai seorang yang mengagumi perjalanan karir Young Lex, rasanya nggak rugi mengeluarkan duit hanya buat buat nonton beliau. Lagu-lagu rapnya bagus. Penampilannya rapi serta benar-benar menghanyutkan. Mengguncangkan. Meski banyak yang mencibir kalau Young Lex adalah ikon anak nakal, ia tetap tak bergeming, ia tetap memakai anting-anting, merokok, dan mentatto sekujur tubuhnya. Dari ujung kaki hingga batang leher. Benar-benar idola yang tidak mendidik. Namun tetap saja saya menyukainya karena ia nggak muna, tampil apa adanya, tak menutup-nutupi kepribadian yang ia miliki. Meskipun ia dianggap nakal, ia tidak menyuruh fansnya untuk menjadi nakal seperti dia meskipun, ya, tetap saja action speaks louder. Bagi mahasiswa abadi yang bingung nyari materi skripsi mungkin perlu mengambil penelitian tentang korelasi peningkatan anak muda bertatto dengan pertumbuhan karir Young Lex. Pasti bakalan ada hubungannya.

Untuk rekor buruk.

Setengah tahun ini juga, saya telah bekerja di tiga lembaga yang berbeda-beda dan tiga-tiganya saya keluar. Pertama, di perusahaan multimedia tiga dimensi. Kedua, di bidang kuliner. Ketiga di tempat kursus Bahasa Inggris. Ketiga-tiganya menuntut komitmen lebih, dan rasanya sangat berat apabila diimbangi dengan tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk. Pada akhirnya saya merasa nyaman untuk memberi les privat secara mandiri tanpa diikat oleh oleh suatu lembaga. Setidaknya saya memiliki banyak waktu luang. Saya juga adalah bos bagi diri saya sendiri meski penghasilan yang dihasilkan tidak seberapa. Setidaknya juga ada kebahagiaan di sana.

*Catatan ini bermula saejak September hingga Desember 2016.

Iklan